Konsep Landas Kontinen untuk pertama kalinya dikemukakan oleh seorang Spanyol yaitu  Odon de buen pada Konferensi Perikanan di Madrid tahun 1926. Pada saat itu peringatan landasan kontinen tidak dikaitkan dengan kepentingan perikanan. Menurut dugaan, perairan diatas Landasan Kontinen merupakan perairan yang baik sekali bagi kehidupan ikan. Secara oceanografi dapat dijelaskan bahwa perairan diatas continental shelf termasuk jenis perairan “euphotic zone” yakni suatu lapisan air yang karena dangkalnya dapat mendapat cahaya matahari sehingga memudahkan terjadinya “photo sytesis” yang diperlukan bagi kesuburankehidupan biologi laut. Jenis bologi laut berupa phyto plankton dan zoo-plankton yang sangat digemari oleh ikan-ikan sebagai makanan pokoknya.

Kemudian konsep Landasan Kontinen yang dikaitkan dengan kekayaan alam yang terdapat di dasar laut dan tanah dibawahnya, untuk pertama kali dapat dilihat dalam proklamasi Presiden Amerika Serikat Harry S Truman pada tanggal 28 September 1945 sebagai berikut:

“Now, therefore, I  Harry S Thurman, President of the  United Stated of America, do hereby proclaim the following policy of United States of subsoul and and seabed of the continental shelf. Having concern for the urgency of conserving and prudently utilizing its natural resources, the government of the United States regard the natural resources of the sudsoil and seabed of tehe continental shelf beneath the high seas but contiguous to the coast of the United States are appertaining to the United States, subject to jurisdiction and control. In cases where the continental shelf extend to the shores of another state or is share with an adjacent state the boundary shallbe determined by the United States and the States concerned in accordance with equitable principle. The characteristic as high seas of the water above the continental shelf and the right to their free and unimpeded navigation are no way thus affected.”

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian berkenaan dengan proklamasi tersebut yakni :
1. Bahwa objek proklamasi itu berkaitan dengan kekayaan alam yang terdapat di dalam tanah (subsoil) dan sasar laut (seabed) dari landas Kontinen Amerika Serikat.
2. Bahwa proklamasi itu bertujuan untuk melindungi kekayaan alam dan memanfaatkannya secara bijaksana.
3. Bahwa Landas Kontinen itu tunduk dibawah jurisdiksi dan pengawasan Amerika Serikat.
4. Bahwa dalam hal Landasan Kontinen bertemu dengan pantai Negara lain, batasnya akan diatur secara bilateral berdasarkan prinsip keadilan.
5. Bahwa penentuan landasan Kontinen itu tidak mempengaruhi status perairan diatasnya sebagai laut bebas.

Menurut Mochtar Kusumaatmadja, proklamasi Presiden Truman itu tidaklah dapat dianggap menyimpang dari ajaran Grotius tentang laut bebas, karena motivasi ajaran Grotius itu adalah semata-mata mengenai kebebasan berlayar dan kebebasan perikanan, sama sekali bukan menyangkut existensi kekayaan alam yang terkandung pada dasar laut dan tanah di bawahnya. Pandangan tersebut dikemukakan dalam suatu kesempatan simposium internasional, sebagai berikut: “It must be added at once the view presented by Grotius on resources of the sea were limited to the living resources as there as there was no notion at the time of the existence of mineral and energy resources”.

Disisi lain, Hasjim Djalal menilai bahwa proklamasi Prsiden Truman itu mengakibatkan perubahan yang radikal dibidang houkum laut. Beliau menyatakan: “I think it is no exaggeration to state that the Truman Proclamation of 1945 ate the most important causes the radical changes that have occurred in the legal rezim of the oceans”.

Perubahan yang radikal memang jelas dapat dilihat dari negara-negara di Amerika Latin dan di Asia secara pasti mengikuti jejak Presiden Truman. Misalnya, Mexico mengeluarkan proklamasi serupa tanggal 29 Oktober 1946; Chili, 1 Juni 1947; Peru, 1 Agustus 1947; Costa Rica, 27 Juli 1948; Saudi Arabia, tahun 1949;Bahrain, 5 Juni 1949; Qatar, 8 Juni 1949; Abu Dhabi, 10 Juni 1949 ;dan Pakistan,9  Maret 1950. Sedangkan Indonesia baru mengeluarkan deklarasi yang berupa Pengumuman Pemerintah tanggal 17 Februari 1969.

Dalam perkembangan selanjutnya terlihat adanya variasi dan modifikasi, Chili dan Peru misalnya mendasarkan deklarasi mereka atas “teori bioma” dan “teori kompensasi” dan mengesampingkan teori “perpanjangan secara geologi” (geological prolongation). Akibatnya, batas landasan Kontinen mereka bukan kedalaman 200 meter tetapi sejauh 200 mil dari pantai. Bahkan ternyata Argentina telah melangkah sangat jauh dengan mengklaim bahwa selain landas kontinen, perairan yang ada diatasnya tunduk di bawah kedaulatan Negara Argentina. Klaim Argentina ini betul-betul merupakan klaim perluasan wilayah, tidak lagi merupakan klaim jurisdiksi eksklusif.

Dengan adanya variasi-variasi itu sudah barang tentu dapat menimbulkan hambatan dan kesulitan dalam praktek internasionla. Hambatan dan kesulitan itu dicoba diatasi dalam Konferensi Jenewa 1958. Selain tentang landas Kontinen Konferensi Jenewa 1958 juga membahas tentang Perikanan, Laut Territorial dan Laut Lepas.  Pasal 1 dari Konvensi Jenewa  1958 tentang Landas Kontinen
menyebutkan  bahwa pengertian landas  kontinen tidak saja berupa landas kontinen dari suatu benua tetapi juga termasuk Landas Kontinen dari suatu pulau. Batas landas kontinen adalah sampai dengan kedalaman 200 meter atau di luar itu sepanjang memungkinkan dilakuakn exploitasi. Secara lengkap rumusan Pasal1 adalah:

“For the purposes of these articles, the term of continental shelf is used as refreshing: (a) to the seabed and subsoil of the submarine areas adjacent to the coast but outside the area of the territorial sea, to a depth of 200 meters or, beyond that limit, to where the superjacent waters admits of the exploitation of the natural resources of the said areas: (b) to the seabed and subsoil of similar submarine areas adjacent to the coast of island”.

Mengenai hubungan hukum antar  negara dengan  landasan kontinennya dinyatakan dalam Pasal 2 para. (1) sebagai berikut :

1) The coastal state exercises over the continental shelf  Sovereign Right for the purpose of exploring it and its natural resources.
2) The rights referred into paragraph 1 of this article are exclusive in the sense that if the coastal state does not explore the continental shelf or exploits natural resources, no one may undertake these activities, or make a claim to the continental shelf without the express consent of the coastal state.

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas jelaslah bahwa menurut Konvensi Jenewa 1958 negara hanya mempunyai hak berdaulat dan jurisdiksi eksklusif atas Landasan Kontinen. Dengan demikian berarti klaim Argentina yang menuntut kedaulatan penuh atas Landas Kontinen dan perairan diatasnya tidak sesuai dengan perasaan hukum masyarakat internasional yang tertuang dalam Konvensi Jenewa 1958 itu.

Dalam perkembangan selanjutnya ternyata rumusan Pasal 1 tentang batas landas Kontinen seperti disinyalir oleh sarjana-sarjana Hukum Internasional misalnya, Ian Brownlie, Mochtar Kusumaatjaya, Satya Nandan dapat menimbulkan bermacam-macam interpretasi, tidak menjamin kepastian  hukumsehingga perlu diadakan penyempurnaan. Ketentuan yang ditunjuk sebagai penyebab ketidak pastian itu adalah kalimat yang berbunyi …”beyond that limit to when the superjacent  water admits the exploitation of the natural resources”. (Diluar batas itu  ketika kedalaman air memungkinkan eksploitasi sumber daya alam). Akhirnya penyempurnaan itu terlihat dalam ketentuan pasal 76 UNCLOS 1982.