Salah satu komponen pelayaran yang  sangat berarti penting yaitu awak kapal.  Para kru harus menjadi awak yang efisien dan kompeten. Kondisi ini menjadi  salah satu faktor prinsip dalam menentukan kelayakan kapal. Hal itu terlihat dalam kasus  Hong Kong Shipping Co Ltd Fir v. Kawasaki Kisen Kaisha Ltd.  Dalam kasus  ini  terlihat bahwa mesin diesel kapal bersama dengan mesin lain dalam rangka cukup baik. Namun karena alasan usia mereka, mesin harus dipertahankan oleh staf, berpengalaman kompeten, mesin-mati dan memadai kamar. Bahkan staf ruang mesin tidak kompeten, dengan mesin kepala kecanduan minuman keras, sehingga kapal dinyatakan layak.

Menurut Konvensi ILO No. 147 tahun 1976 tentang Standar Minimum Awak Kapal disebutkan bahwa “setiap negara naggota Konvensi harus
menjamin bahwa awak kapal yang dipekerjakan atas kapal yang terdaftar dalam wilayahnya memiliki kualifikasi atau keahlian atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.Hal yang sama juga disebutkan pada Pasal 94 ayat 4 Konvensi Hukum Laut yang menyebutkan bahwa negara bendera
harus menjamin bahwa setiap kapalnya memiliki nahkoda dan awak kapal yang berkualitas (appropriate qualifications).  Dalam ranah yang dimaksud, telah dibuat suatu Konvensi yang membidangi standar pelatihan yang disebut dengan Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (the STCW Convention). STCW Convention meletakkan syarat-syarat wajib minimum yang mesti dipunyai oleh nahkoda dan awak kapal dalam melaksanakan dan mengawasi pelayaran.